Menag Tegaskan Peran Imam Sebagai Duta Perdamaian di Depan Delegasi 39 Negara

Jakarta – Dalam konteks global yang penuh dengan tantangan dan konflik, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan urgensi peran imam sebagai duta perdamaian dan jembatan kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa kedekatan imam dengan masyarakat menjadikan mereka sebagai pemimpin keagamaan yang memiliki posisi strategis dalam membangun dialog, meredakan ketegangan, serta memperkuat harmoni antar umat.
Pentingnya Peran Imam dalam Masyarakat
Dalam sambutannya pada International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Menag menegaskan, “Kehadiran imam sebagai ambassador perdamaian sangatlah krusial. Mari kita jadikan masjid sebagai titik pertemuan.” Pernyataan ini mencerminkan upaya untuk menggeser fungsi masjid dari sekadar tempat ibadah menjadi pusat pertemuan untuk dialog dan kerjasama.
Menag menyoroti bahwa peran imam sangat vital karena mereka memiliki interaksi yang intens dengan masyarakat. Melalui berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan secara rutin, imam membangun kedekatan yang memungkinkan mereka untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian dengan lebih efektif.
Intensitas Komunikasi Imam
“Imam adalah orang yang paling sering berkomunikasi dengan umat. Mereka bertemu lima kali sehari, bahkan lebih, dibandingkan dengan pejabat pemerintah atau pimpinan organisasi lain,” jelas Menag. Dengan frekuensi ini, imam memiliki kesempatan emas untuk membangun kesadaran dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian di tengah masyarakat.
Perluasan Peran Imam ke Ruang Sosial
Menag mendorong agar peran imam tidak hanya terbatas pada kepemimpinan ritual, tetapi juga meluas ke ranah sosial dan kemanusiaan. Dalam pandangannya, banyak masalah yang tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan formal, terutama konflik yang berkepanjangan di berbagai belahan dunia.
“Diplomasi formal sering kali tidak berhasil menghentikan perang. Imam dapat menawarkan solusi alternatif dengan pendekatan yang lebih humanis dan moral,” tambahnya. Pendekatan ini menggugah kesadaran untuk menggunakan bahasa kemanusiaan dalam menyelesaikan konflik.
Kemanusiaan sebagai Titik Temu
Menurut Menag, pendekatan berbasis agama dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan individu dari latar belakang agama, etnis, dan kebangsaan yang berbeda. Ia menekankan bahwa kemanusiaan adalah titik temu yang dimiliki setiap orang.
“Kami percaya bahwa kemanusiaan itu satu, tidak mengenal warna. Rasa kemanusiaan ini melampaui batas agama dan etnis. Semua orang memiliki rasa kemanusiaan yang sama,” tegasnya. Harapannya, bahasa agama dapat menjadi alat untuk menyentuh sisi kemanusiaan, terutama dalam merespons berbagai konflik, baik di tingkat regional maupun internasional.
Menggunakan Bahasa Agama untuk Meredakan Konflik
Menag berharap agar bahasa agama dapat dimanfaatkan untuk menangani konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. “Mari kita hadapi persoalan konflik ini dengan pendekatan kemanusiaan. Semoga bahasa agama dapat meredakan ketegangan dan konflik, dan kehadiran imam sebagai mediator sangatlah penting,” ujarnya.
Kepedulian Lingkungan
Di samping membangun perdamaian antarmanusia, Menag juga menekankan pentingnya peran imam dalam menjaga lingkungan. Ia mendorong pemanfaatan bahasa agama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlunya melindungi alam dan menghindari eksploitasi sumber daya yang berlebihan.
- Menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan masyarakat.
- Mendorong pengelola hutan dan laut untuk bertindak lebih bertanggung jawab.
- Mengajak masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan.
- Menekankan pentingnya ekoteologi dalam diskusi keagamaan.
- Membangun kesadaran kolektif terhadap kerusakan alam.
Gagasan ini menjadi bagian dari diskusi ekoteologi yang diangkat dalam IGIC 2026. Menag berpendapat bahwa masjid dapat berfungsi sebagai tempat yang mempertemukan kepentingan agama dengan isu-isu kemanusiaan dan lingkungan.
Menggagas Forum Lintas Agama
Menag juga menyampaikan rencana untuk memperluas semangat IGIC dengan melibatkan para pemimpin rumah ibadah dari berbagai agama. Forum lintas agama ini akan difokuskan pada masalah kemanusiaan yang menjadi perhatian bersama.
“Insyaallah, setelah International Grand Imam Conference ini, kami akan mengadakan pertemuan dengan pemimpin-pemimpin rumah ibadah non-Islam, seperti pimpinan Katolik dan gereja-gereja lainnya. Mari kita duduk bersama, karena tema sentral kita sebagai umat beragama adalah sama,” ungkapnya.
Membangun Ukhuwah Makhluqiyah
Menag menekankan pentingnya kerja sama ini untuk memperkuat rasa persaudaraan kemanusiaan. Ia memperkenalkan gagasan ukhuwah makhluqiyah, yakni persaudaraan sebagai sesama makhluk. “Selain ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah Islamiyah, kita perlu mengembangkan konsep ukhuwah makhluqiyah,” jelasnya.
Partisipasi Internasional dalam IGIC 2026
International Grand Imam Conference 2026 mempertemukan pemimpin keagamaan dari seluruh dunia untuk membahas kontribusi kepemimpinan agama dalam masalah kemanusiaan dan perdamaian global. Ketua Panitia IGIC 2026, M Sabilul Alif, melaporkan bahwa hingga saat pembukaan, telah terkonfirmasi kehadiran 49 delegasi dari 39 negara.
Delegasi ini terdiri dari Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai belahan dunia. “Hari ini, kami telah mengkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri dari para Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia,” jelasnya.
Pertukaran Gagasan dan Pengalaman
Kehadiran para pemimpin agama ini diharapkan dapat mendorong pertukaran gagasan dan pengalaman lintas negara mengenai peran keagamaan dalam menghadapi tantangan global. IGIC 2026 berlangsung dari 25 hingga 28 September 2026, dengan mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace.”
Dalam konferensi ini, peserta akan berdiskusi mengenai peran masjid dalam membangun harmoni, diplomasi keagamaan, perdamaian global, serta potensi ekonomi kemasjidan. Ini adalah langkah penting dalam mengintegrasikan peran imam sebagai duta perdamaian di era modern ini.




