https://file.ppklkemenkop.id/data-web-1/data-user-8/145b4a7a4cb19ba3cc29774f10d36bac.png

PETUGAS PENYULUH KOPERASI LAPANGAN
KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA

Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan Menjadi Aktivator Koperasi

28-Maret-2018

ADA perubahan paradigma dan pendekatan penyuluhan koperasi yang harus dilakukan sebagai strategi utuk membangun koperasi Indonesia ke depan. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Hal itu diungkap Asdep Penyuluhan Deputi Bidang Kelembagaan Kementrian Koperasi dan UKM RI Bagus Rachman SE. MEc saat memberikan materi dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) tahun 2018 untuk Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta yang dilaksanakan di Prime Park Hotel Jl. PHH Mustofa, Bandung baru-baru ini.

Menurut Bagus, faktor internal yang mempengaruhi diantaranya cara kerja PPKL tempo lalu lebih bersifat hanya sebagai pendata (enumerator) koperasi di lapangan. Hal tersebut kurang memperhatikan entitas koperasi sebagai kumpulan orang (people based association) yang organis dan memiliki jiwa atau spirit.

"Petugas penyuluh habis energi pada kerja-kerja administratif atau pendataan, sehingga tidak bisa mengembangkan daya dukung strategis bagi gerakan koperasi," papar Bagus.

Sementara untuk faktor eksternal yang mempengaruhi perubahan paradigma antara lain terjadinya pertumbuhan yang signifikan pada pengguna internet, smartphone dan media sosial di Indonesia. Data terkini mencatat bahwa ada 143,26 juta pengguna internet di Indonesia (54,68% dari jumlah penduduk) dimana 130 juta diantaranya aktif menggunakan media sosial.

"Yang menarik adalah 120 juta akses internet melalui smartphonenya. Hal ini adalah peluang besar bagi penyuluh koperasi gaya baru. Keberadaan media sosial telah merubah cara masyarakat dan lembaga dalam berkomunikasi. Saat ini proses komunikasi cenderung dua dan multi arah dengan nyaris tanpa batasan waktu resmi," jelasnya.

Salah satu perbedaan antara penyuluh dan aktivator koperasi nampak pada penyuluhan atau pendampingan dilakukan secara tatap muka saja. Sedangkan sebagai aktivator koperasi, penyuluhan melalui tatap muka tetap dilakukan plus pemanfaatan sistem online dalam memotret kondisi koperasi serta pemanfaatan media sosial dalam membangun knowledge management. Jadi,  aktivator koperasi ini menempatkan koperasu juga sebagai subyek, yakni mendorong koperasi atau masyarakat untuk mengelola, menciptakan dan menggunakan pengetahuan dalam berkomunikasi," paparnya. (bis)

Foto-foto