https://file.ppklkemenkop.id/filekop/data-web-1/data-user-1/8622d9ef2c8cb7bfa21c8b2f83799653.png

PETUGAS PENYULUH KOPERASI LAPANGAN
KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA

Makna Kerja sama dan tolong-menolong dalam Koperasi

Anshari Mukhcitra soma 16-Mei-2020

Di indonesia, bentuk kerja sama sudah lama dikenal dengan istilah "gotong royong"gotong royong di indonesiasudah dimulai pada tahun 2.000 S.M, dan terdapat hampir diberbagai etnis yang ada di indonesia. istilah gotong royong berbeda-beda di berbagai daerah :

  • Di Tapanuli dikenal dengan nama "Marsiurupan"
  • Di minahasa disebut "Mapalus Kobeng"
  • Di ambon dikenal denga nama "Masohi"
  • Di Sumba menggunakan istilah "Pawonda"
  • Di Madura disebut "Long Tinolong"
  •  Di Jawa Barat dikenal dengan nama "Liliuran"
  • Di Sumatra Barat dikenal dengan nama " Julojulo"
  • Di Bali lebih dikenal dengan sebutan "Subak" dan masih banyak istilah lain yang sesuai dengan bahasa dan norma yang berlaku pada masyarakat.

dengan demikian apakah aiti koperasi dapat disamakan dengan gotong royong ? atau apakah gotong royong dan tolong-menolong mempunyai prinsip yang sama dengan koperasi ?

koperasi, gotong royong, dan tolong-menolong, sama-sama mengandung unsur dasar kerja sama, tetapi mempunyai perbedaan yang mendasar sebagai berikut. 

  • gotong royong adalah kegiatan bersama untuk mencapai tujuan bersama, seperti perbaikan jalan, membangun rumah ibadah dan lain-lain
  • Tolong menolong atau bantu-membantu menunjukan pada pencapaian tujuan perorangan, seperti menggarap lahan sawah, memperbaiki rumah, dan lain-lain. disini ada unsur balas membalas dimana orang bersedia menolong orang lain dengan harapan bahwa, dikemudian hari ia akan memerlukan pertolongan orang lain juga.
  • gotong royong dan tolong-menolong mengandung unsur "keterpaksaan" yang bermakna disiplin dan solidaritas. orang akan melaksanakannya karena adanya semacam keharusan dan solidaritas sosial. sanksi sosial akan ada terhadap anggota masyarakat yang tidak pernah bersedia ikut dalam gotong royong. demikian pula dalam hal tolong-menolong, dimana sifat ketidakrelaan ini lebih kuat lagi, karena tanpa menolong orang lain, seorang akan rugi sendiri dikemudian hari apabila tak ada yang bersedia menolongnya pada waktu ia memerlukannya.
  • pada kasus koperasi, yang terjadi adalah sebaliknya. prinsip keterpaksaan tidak dijumpai dalam perkumpulan koperasi yang tujuan ekonominya sangat jelas. dapat dipahami bahwa gotong royong dan tolong-menolong lebih bertujuan sosial, bukan bertujuan ekonomi. koperasi mempunyai tujuan ekonomi yang lebih kongkrit. 

Foto-foto