Aripay Tambunan: Mengendalikan Inflasi dari Kandang, Mendorong Sumut Sebagai Pusat Ayam Petelur dan Potong

Di tengah tantangan inflasi yang terus menggerogoti perekonomian, Anggota DPRD Sumatera Utara, Aripay Tambunan, mengambil langkah proaktif dengan mendorong Pemerintah Provinsi untuk memperkuat produksi ayam petelur dan ayam potong. Melalui pendekatan berbasis masyarakat, Aripay berupaya menciptakan solusi jangka panjang yang tidak hanya mengurangi dampak inflasi, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan di Sumatera Utara. Dengan memanfaatkan potensi lokal, diharapkan Sumut bisa menjadi pusat ayam petelur dan potong yang mandiri dan berkelanjutan.

Pentingnya Pengendalian Inflasi Melalui Produksi Pangan Lokal

Dalam diskusinya di Rapat Kerja DPRD Sumut di Hotel Niagara, Parapat, Aripay menekankan bahwa pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan secara reaktif ketika harga pangan sudah melambung. Sebaliknya, upaya tersebut harus dimulai dari hulu, yaitu dengan meningkatkan produksi pangan lokal melalui pemberdayaan masyarakat. Hal ini penting agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang aktif.

“Kita tidak bisa hanya menunggu harga ayam naik lalu baru bertindak. Kita perlu memikirkan langkah-langkah untuk meningkatkan produksi ayam di Sumatera Utara,” tegas Aripay. Ia menyadari bahwa ayam, bersama dengan komoditas pangan lainnya seperti cabai, merupakan barang yang rentan terhadap fluktuasi harga yang dapat berpengaruh signifikan terhadap inflasi.

Meningkatkan Ketersediaan Pasokan Pangan

Aripay mengingatkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap telur dan daging ayam terus meningkat. Apabila produksi di Sumut tidak diperkuat, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah akan semakin meningkat, yang berpotensi menyebabkan harga menjadi lebih tidak stabil. Oleh karena itu, ia meminta Dinas Pertanian Sumut untuk menjadikan pengembangan peternakan ayam sebagai salah satu program prioritas.

Strategi Pembangunan Kandang Sederhana

Aripay juga berpendapat bahwa pengembangan peternakan ayam tidak harus dimulai dengan investasi besar. Ia menganjurkan agar pemerintah memfasilitasi pembangunan kandang sederhana yang dikelola secara kelompok. Menurutnya, dengan anggaran sekitar Rp1,7 juta hingga Rp2 juta, satu kandang sederhana dapat dibangun untuk menampung puluhan ekor ayam.

“Jika pola ini diterapkan secara masif, kita yakin produksi telur dan daging ayam di Sumut akan meningkat secara signifikan,” ungkapnya. Dengan mendorong kelompok peternak, terutama di daerah yang memiliki potensi, masyarakat tidak hanya akan menerima bantuan tetapi juga menjadi bagian dari solusi pangan di Sumatera Utara.

Pemberdayaan Masyarakat sebagai Pelaku Ekonomi

Aripay menegaskan pentingnya memberdayakan masyarakat agar tidak sekadar menjadi penerima bantuan. Mereka harus diikutsertakan dalam proses produksi, sehingga mampu menciptakan usaha dan pendapatan yang berkelanjutan. Dukungan kepada kelompok peternak, menurutnya, harus bersifat terpadu, meliputi pembangunan kandang, penyediaan bibit, pakan, pendampingan teknis, serta akses pemasaran.

“Dengan pendekatan ini, bantuan pemerintah tidak hanya akan bersifat sementara, tetapi bisa berkembang menjadi usaha produktif yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” jelas Aripay.

Manfaat Ekonomi dari Pengembangan Peternakan Ayam

Aripay memandang bahwa pengembangan peternakan ayam dapat memberikan manfaat yang luas. Selain menjaga stabilitas harga pangan, usaha peternakan juga dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan membuka lapangan pekerjaan baru. Dengan meningkatnya produksi telur dan daging ayam, pasokan pangan akan lebih terjamin, sehingga harga bisa lebih terkontrol.

“Kita bisa mendapatkan manfaat ganda dari langkah ini. Kita tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga membantu mengendalikan harga dan meningkatkan ekonomi masyarakat,” tambahnya. Aripay berharap Bank Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dapat memberikan dukungan untuk mendorong pengembangan usaha ayam potong dan ayam petelur.

Pentingnya Kebijakan Jangka Panjang dalam Pengendalian Inflasi

Aripay juga menyatakan bahwa Sumut memerlukan kebijakan pengendalian inflasi yang bersifat proaktif. Pemerintah tidak hanya perlu berpikir untuk mengatasi inflasi setelah harga pangan naik, tetapi juga harus mulai membangun ekosistem produksi pangan yang melibatkan masyarakat. “Kita harus mencegah inflasi sebelum terjadi dengan memperkuat produksi,” katanya.

Ia percaya bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga di Sumut. Dengan menguatkan produksi dari tingkat kelompok masyarakat, dampak positifnya dapat dirasakan secara berantai, mulai dari peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, hingga terjaganya pasokan pangan yang stabil.

“Melawan inflasi bukan sekadar menahan harga agar tetap rendah, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan yang mereka konsumsi sendiri,” pungkas Aripay. Ini adalah langkah konkret untuk menjadikan Sumatera Utara sebagai pusat ayam petelur yang mandiri dan berdaya saing.

Exit mobile version